Sistem dan Struktur Bahasa Arab

Dalam linguistik dibicarakan beberapa subsistem berikut: subsistem bunyi (fonologi [علم الأصوات]), subsistem struktur bahasa (morfologi [علم الصرف] dan sintaksis [علم النحو]), subsistem perbendaharaan bahasa (leksikon [المفردات]), subsistem makna dari tanda bahasa (semantik [علم الدلالة]), subsistem makna yang dipengaruhi oleh sesuatu di luar bahasa (pragmatik [البرجماتية / الواقعية]).
Beberapa subsistem di atas mewakili bidang yang dibahas dalam linguistik, yang secara berurutan dari unit yang terkecil hingga unit yang terbesar sebagai berikut:
1. الأصوات (bunyi)
2. بناء الكلمة (pembentukan kata)
3. بناء الجملة (konstruksi kalimat)
4. الدلالة (makna)
Dengan kata lain, dari bunyi akan terbentuk kata, lalu dari kata akan terbentuk kalimat. Dan, kalimat harus mempunyai makna. Urutan inilah yang disepakati oleh kalangan linguis modern dan linguis kontemporer. Urutan seperti ini berbeda dengan urutan yang diberikan oleh Sibawaih dan mayoritas Nuhah (ahli nahwu). Mereka mengurutkannya dari unit yang terbesar ke unit yang terkecil, mulai dari kalimat dan i’rab (deklinasi), lalu pola pembentukan kata, dan terakhir kasus bunyi. Namun, belakangan muncul fenomena baru di kalangan linguis Amerika dan Eropa yang juga mengurutkan dari unit yang terbesar ke unit yang terkecil. Pendekatan ini pula yang belakangan mulai dikembangkan di Indonesia. Buku Pesona Bahasa; Langkah Awal Memahami Linguistik yang ditulis oleh para linguis dari Universitas Indonesia (Jakarta: Gramedia, 2005), juga melakukan pendekatan yang sama: dari unit terbesar ke unit terkecil.
Sekarang, kita akan mencoba menelaah satuan unit tersebut dalam kasus bahasa Arab. Satu bahasa terdiri dari sejumlah unit bunyi yang terbatas. Pada banyak bahasa, unit bunyi (baca: fonem) hanya berjumlah antara 30-40 fonem. Namun, jumlah fonem yang terbatas itu ternyata bisa menghasilkan jutaan kata. Ini terkait dengan mekanisme pembentukan kata yang tiap bahasa mempunyai tingkat produktivitas tersendiri yang cukup tinggi. Dalam bahasa Arab, kata seperti k-t-b, b-k-t, t-k-b, b-t-k, t-b-k, dan k-b-t, potensial muncul bila ditinjau dari sudut pandang teoretis. Masing-masing kata itu terdiri dari tiga fonem /k/, /t/, /b/, meskipun posisi fonem itu berbeda-beda pada tiap kata. Namun, tidak semua kata itu bisa ditemui dalam bahasa Arab. Ada sebagian yang memang bisa ditemui, tetapi sebagiannya tidak bisa ditemui. Kasus yang sama juga bisa ditemui di bahasa lain. Hanya tiap bahasa pasti akan memilih ribuan saja dari sekian juta kata yang secara teoretis potensial muncul.
Suatu kata tersusun berdasarkan sekumpulan pola morfologis, seperti pola pembentukan kata, prefiks, dan sufiks. Setiap pola morfologis pasti memiliki bentuk kata tersendiri dengan konsekuensi makna tertentu sesuai bentuk itu. Pola fa’il dalam bahasa Arab mengacu pada makna pelaku. Prefiks juga memiliki fungsi yang beraneka macam. Sebagai contoh, prefiks mu- (م) pada kata mukrim berfungsi sebagai ism al-fa’il (nomina partisipel aktif) untuk kata nontriliteral (kata yang tidak terdiri dari 3 konsonan). Atau, prefiks mu- (م) pada kata mukram berfungsi sebagai ism al-maf’ul (nomina partisipel pasif). Jumlah sufiks dalam bahasa Arab juga sangat banyak. Ada sufiks yang secara khusus menjadi pemarkah jamak beraturan baik untuk jamak maskulin (jama’ mudzakkar) seperti –un (ون) maupun jamak feminin (jama’mauanats) seperti –at (ات). Dengan cara yang sama, kata-kata baru bisa dimunculkan. Perubahan penempatan fonem dalam sekumpulan pola morfologis memungkinkan terciptanya jutaan kata baru.
Namun yang perlu dicatat, bahasa tidak cukup diciptakan hanya dengan mengandalkan keberadaan kata. Dalam bahasa Arab, konstruksi berikut bisa dibedakan:
1. ضرب موسى عيسى (dharaba musa isa)
2. ضرب عيسى موسى (dharaba isa musa)
Posisi penempatan kata dalam konstruksi klausa di atas menentukan makna yang dikandung klausa tersebut. Klausa (1) memberi pesan bahwa pelaku pemukulan adalah Musa, sementara Isa adalah korban pemukulan; (2) memberi pesan bahwa pelaku pemukulan adalah Isa, sementara Musa adalah korban pemukulan. Ini terkait keberlakuan kaidah pembentukan kalimat dalam bahasa Arab.
Bentuk fi’l madhi (verba perfektif) dalam bahasa Arab tidak serta-merta meninggalkan pesan bahwa tindakan yang ditunjuk oleh verba tersebut memberi makna telah selesai dilakukan. Kata qara’a pada klausa berikut: إن قرأت هذا الكتاب وجدته سهلا (jika saya membaca buku ini, maka saya menyimpulkan buku ini mudah). Karena, makna pada verba perfektif pada dua klausa ini (qara’ dan wajada) justru belum terjadi, meskipun keduanya merupakan verba perfektif. Dengan kata lain, bentuk verba perfektif saja tidak bisa kemudian memastikan bahwa makna verba itu telah selesai dilakukan. Pada kasus seperti ini diperlukan pengkajian terkait tipe dan pola kalimat yang berlaku pada suatu bahasa, selain dikaitkan juga dengan konteks kalimat. Tipe dan pola inilah sebetulnya yang menyebabkan suatu bahasa sangat produktif. Dalam konteks yang berbeda, suatu kata akan memiliki makna lain di luar makna dasarnya, setelah kata itu bergabung dengan kata lain. Dengan cara seperti itulah suatu bahasa akan yang menghasilkan jutaan kata dengan jutaan makna baru di luar makna dasarnya. Makna itulah yang disebut dengan makna kontekstual. Karenanya, pengkajian makna selalu mencakup segala aspek yang berhubungan dengan kata dan ungkapan. Dan, kamus merupakan terapan dari pengkajian makna itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: